Selasa, 28 Januari 2014

Hai hai haii!!! :D ketemu lagi dengan saiya.. :D
Kali ini aku mo ngepost cerpen pertama akuh lohh! Aga ga nyambung sihh, soalnya baru belajar.
Langsung aja deh...!!
.
.
.
.
Chek this out.............!!!!


Penantian Semu
Namaku Angelina Talita, biasa dipanggil Angel. Aku dari keluarga terpandang dan kaya raya. Ayahku adalah seorang anggota DPR di Jakarta, tempat aku dan keluargaku tinggal. Aku adalah sosok yang pendiam dan pemalu, tak hayal kalau bertemu dengan teman-teman  aku merasa malu dan canggung. Karena sifat itulah aku jadi tidak mengenal teman-teman yang berbeda kelas denganku dan tetangga-tetanggaku.
                Aku sekarang duduk di kelas 2 SMA, sifatku masih sama seperti dulu. Aku masih menjadi pribadi yang tertutup dan pemalu. Bahkan, aku tidak pernah mengenal seorang cowok karena di sekolahku cewek dan cowok tempatnya terpisah.  Memang sejak SMP aku tidak pernah pacaran, meskipun kedua orang tuaku mengizinkannya. Pikirku, jika aku pacaran, apa yangharus kulakukan? Aku pasti sangat malu dan salah tingkah jika bertemu dengan pacarku. Karena itulah, aku tidak pernah ingin berpacaran. Meskipun kata temanku aku ini cantik banget dan banyak yang naksir, tetap aku abaikan omongan-omongan itu.
                Saat aku kelas 3 SMA, aku baru mulai mengenal facebook, twitter dan sebagainya.
Sejak saat itulah sifatku yang dulu berubah. Aku sekarang menjadi cewek yang sangat terbuka di dunia maya. Segala sesuatu yang aku alami selalu aku share ke jejaring sosial. Tapi, ayah dan ibuku tidak mengetahui itu meskipun mereka memiliki akun facebook dan twitter juga. Mereka tidak pernah mengawasiku karena sangat sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Aku sekarang menjadi cewek malam yang suka keluyuran ke diskotik. Teman-temanku menyayangkan itu semua, karena dulu aku dikenal sebagai cewek yang pendiam dan pintar itu seketika menjadi cewek liar yang nggak tau aturan. “Angel, kamu kok sering keluar malem sih? Ke diskotik lagi. Kamu ga malu apa, udah jadi bahan gosipan ibu-ibu di komplekmu? Kamu udah kelas 3! Seharusnya kamu belajar dengan giat supaya kamu lulus nantinya”. Omel teman sebangkuku yang juga tetanggaku itu, Fina. Tapi aku hanya melirik sinis ke dia dan meninggalkannya tanpa mendengar kata-kata panjang lebar yang keluar dari mulutnya itu.
                Seminggu telah berlalu. Tanpa kusadari, ibuku mendengar gosip yang tak sedap tentang kebiasaan burukku itu. Ibuku sangat kecewa dengan apa yang telah aku lakukan seminggu lalu. Dan ibuku juga bilang ke ayahku tentang kebiasaan baru anak semata wayangnya itu. Ayahku memarahiku habis-habisan. Bukan hanya itu, dia pun sekarang lebih fokus mengawasiku. Meskipun tidak secara langsung. Dia membayar 5 orang pembantu, 2 bodyguard dan seorang sopir untuk mengawasiku kemanapun aku pergi.
Jelas itu sangat menekan batin dan perasaanku. Bagaimana tidak!, aku seorang cewek liar, meskipun sebelumnya aku pernah menjadi cewek yang sangat lugu itu masih membuatku sangat tertekan dengan keadaan ini. Kemana-mana selalu ada yang mengawasiku, layaknya seorang presiden yang hendak bepergian dan dikawal beberapa mobil polisi. Yah, seperti itulah kehidupanku saat ini.
                Seperti di kurung dalam sangkar rasanya. Gak bisa lihat keadaan luar seperti dulu lagi. Aku sering ngehabisin waktu cuma didalam kamar yang luas dan penuh dengan fasilitas yang lengkap itu. Tapi lama kelamaan aku juga mulai bosan dengan semua fasilitas yang disediakan ayahku itu. Menurutku, masih enak hidup di luar sana daripada di rumah mewah, penuh dengan fasilitas yang lengkap tetapi tidak memiliki teman.
Hingga aku memutuskan untuk kabur lewat jendela kamarku. Tapi itu sia-sia, salah satu pembantuku memergoki aku manjat ke jendela saat dia mengantarkan makanan. Usahaku kali ini gagal, dan aku ga akan pernah putus asa untuk mencari jalan keluar. Itulah prinsipku dalam keadaan dikurung layaknya seekor ayam.
Dan aku baru ingat, aku masih punya akun facebook buat mencari informasi dari luar sana. Ujarku dalam hati.
Tanpa pikir panjang, aku langsung meraih iPad buatan China itu untuk membuka akun facebookku yang sudah berminggu-minggu gak kebuka. Ribuan permintaan pertemanan, dan puluhan pesan masuk memenuhi akunku. Langsung kukonfirmasi semuanya dan membalas semua inbox dari teman-temanku meskipun banyak juga yang ga aku kenal sebelumnya.
                Pada saat itu pula, ada seorang cowok mengirim pesan. Aku langsung membalasnya. Dia ingin berkenalan denganku, aku terima permintaan dia dengan senang hati. Aku lihat semua tentang dia di kronologinya. Dia cakep juga ternyata. Dia tinggal di Bandung, Randy namanya. Semua statusnya sih kelihatannya dia anak baik-baik. Foto-fotonya juga cakep-cakep.
Setelah itu dia ngasih pin BB dan nomer Hpnya. Dia juga minta pin BB dan nomer Hpku. Aku mengasihnya tanpa paksaan dan tanpa pikir panjang. Malamnya, dia mengirim sms ke aku, betapa bahagianya aku. Baru sebentar berkenalan, rasanya aku udah mulai memiliki perasaan sama dia. Selain dia cakep dan kelihatannya sangat pintar, dia juga sangat perhatian sama aku. Aku semakin tertarik sama dia. Tapi, aku berusaha menyimpan rasa ini sampai dia mengungkapkan perasaannya juga. Meskipun aku gak tau apakah dia juga menyimpan rasa sama aku. Tapi, berselang sebulan, dia menembakku dan akupun menerimanya dengan perasaan gembira.
                Berbulan-bulan terlewati, aku dan dia masih berhubungan. Meskipun cuman lewat BBM dan sms saja. Aku pernah menelponnya, tapi dia gak mau bicara. Hingga sampai saat ini aku masih belum pernah mendegar suaranya, bahkan akupun belum pernah ketemuan.
Rasanya udah lama sekali aku kenal sama Randy. Tapi mengapa dia ga pernah mengajakku jalan-jalan, dinner atau sekedar ketemuan?
Aku nekad buat ngajak dia ketemuan. Tapi ada aja alasan dia ga bisa ketemu sama aku. Sampai akhirnya aku minta anter supirku ke Bandung untuk mencari dia meskipun aku gak tau alamatnya. Sampai aku rela bolos bimbingan UN demi ketemu dia.
“Sayang, aku sekarang lagi di Bandung. Alamatmu dimana? Aku udah berjam-jam mengelilingi Bandung.” Smsku ke dia. Tapi dia ga bales smsku. Sampai malam, aku masih mengelilingi kota kembang itu. Tapi nihil. Aku pulang dengan perasaan hampa, kecewa dan capek karena perjalanan yang cukup jauh, melelahkan, bercampur dengan pikiranku yang ga karuan gara-gara mikirin dia dan nasib UN nanti.
                Aku berusaha menghindar dari dia sementara, dan akhirnya aku memilih konsentrasi ke Ujian Nasional. Dan syukurlah, aku masih mendapat nilai yang lumayan. Orang tuaku juga bangga.
setelah UN selesai, aku ga mikir ke kuliah dulu. Aku lebih mementingkan Randy, pacarku. Aku masih mencari-cari dia sampai akhirnya aku udah lelah dan putus asa.
Dan pada akhirnya aku menyuruh temanku yang tinggal di Bandung untuk menyelidiki dia. Dan setelah dia berminggu-minggu mencari tahu, tapi hasilnya juga sama. Dia tidak mengetahui keberadaan Randy. Sampai akhirnya ada seorang temanku yang bilang kalau dia hanya menipuku dengan identitas palsu. Tapi aku tidak mempercayainya begitu saja.
Dan setelah itu aku punya ide yang cemerlang buat membuktikan kalau dia menipuku atau tidak. Aku menyuruh teman cowokku menyelidikinya. Tapi, apa yang terjadi? Ternyata dia bohong beneran. Dia adalah seorang cewek yang hanya iseng menggodaku. Seketika itu, aku langsung lemas dan stres. Aku gak tau harus berbuat apa. Udah banyak pengorbanan yang aku korbankan demi dia. Kenapa dia ga bilang dari dulu kalau dia seorang cewek? Aku kecewa banget. Aku juga pernah punya rasa buat bales dendam ke dia, biar dia tau perasaanku sekarang ini bagaimana. Tapi aku tahu, balas dendam tidak bisa menyelesaikan masalah. Semuanya aku serahkan pada yang maha kuasa. Aku udah gak tahu harus berbuat apa lagi.
                Aku mengurung diri dari dunia maya dan luar, sampai semua teman-temanku menanyakan kabarku. Aku merasa bodoh saat itu. Kenapa aku mau pacaran sama orang yang ga aku kenal sebelumnya? Betapa bodohnya aku.
Setelah setahun aku dirundung kegalauan, akhirnya orang tuaku menjodohkanku dengan anak teman ayahku, Dimas. Dia ganteng, cerdas dan sayang sama keluarga. Dia adalah leader di perusahaan terkenal.
Tak lama kemudian, aku menikah dengan dia. Setelah setahun, kami dikaruniai seorang anak cewek yang manis sekali. Aku sangat bersyukur dengan apa yang telah direncanakan Tuhan.
Aku merasa tidak sendiri lagi.
Kini aku menjadi sosok ibu yang sangat baik. Dan aku berharap tidak ada lagi orang yang mengalami kejadian pahit dimasa laluku itu. Cukup aku saja yang menderita.
Ingat! Rencana Allah itu lebih indah dari apa yang kita harapkan. Dan jangan terlalu percaya sama orang yang belum kita kenal sebelumnya.
J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar